Selamat Datang di Web:

IKATAN PELAJAR NAHDLATUL ULAMA
IKATAN PELAJAR PUTRI NAHDLATUL ULAMA
BULULAWANG-MALANG-JAWA TIMUR

Thursday, 26 April 2012

Rapat Anggota


Rekan Moch. Rifai dan Rekanita Niswatul Azizah Sebagai Ketua Ranting Bakalan yang berkuasa selama 4 periode akhirnya runtuh juga. dengan menjelaskan kepada Anggota atas pertanggung jawabannya. ia tetap berwibawa dan berkomitment untuk membangun dan menciptakan kader-kader berkualitas di desa bakalan. semangat dan loyalitas organisasinya yang berkualitas ia tunjukkan di depan anggotanya.

Rapat Anggota ranting bakalan yang di hadiri oleh 64 anggota tersebut berjalan dengan khidmat. MS. Afifuddin Ibad, selaku tuan rumah dan salah satu pembina ranting bakalan membuka acara tersebut. dengan penuh kedamaian dan ketenangan acara itu berjalan. acara khas amaliyah NU yaitu istighosah dilaksanakan pada permulaan acara. harapan organisasi dapat dapat Ridlo Allah SWT dan dimudahkan segala program-programnya.

suasana mulai memanas ketika Ketua Umum Pimpinan Anak Cabang IPNU Bululawang M. Sholehuddin Arief sambutan dan mendemesionerkan ketua lama.ketegangan terjadi karena pemilihan ketua terpilih akan segera dilaksanakan. kekosongan kepemimpinan terjadi di ranting bakalan, kepemimpanan diambil alih oleh Pimpinan Anak Cabang IPNU kec. Bululawang.

Acara Pemilihan ketua IPNU-IPPNU ranting bakalan dilaksanakan, suasana semakin sunyi dan puluhan mata terbelalak dan pandang memandang untuk menentukan bakal siapa yang akan dicalon kan. Saiful Islam selaku ketua pembina pemersatu IPNU-IPPNU ranting bakalan memimpin dengan sebutan Dewan Musyrat ( Musyawarah Ranting) acara tersebut. puluhan kepala tertunduk dan puluhan hati berdebar-debar. pucak suatu peristiwa permulaan kejayaan atau keruntuhan benar-benar telah dimulai. tanggungjawab besar dan perjuangan yang berat akan segara dipikul bagi ketua terpilih.

akhirnya dengan bacaan basmalah mulailah sang peminpin acara menawarkan kepada anggota untuk siapa saja yang akan dicalonkan sebagai calon terpilih ketua. dengan selektif dan penuh pemikiran panjang anggota dan para alumni terpiluhnya nama-nama sebagai berikut:
Untuk calon Ketua IPNU: 1. M. Agus Salim dari Dusun Jamuran, 2. M. Idris dari Dusun Bakalan Krajan dan 3. M. Hasan Bashori dari Dusun jamuran. untuk calon ketua IPPNU: 1. Ririn Mufidah dari Dusun Bakalan 2, Ria Rahmayanti dari Dusun bakalan krajan dan 3. Khusnul Khotimah dari dusun Bakalan kra.jan juga.

Anggota semua mulai menganalisis siapa calon yang akan dipilihnya nanti. suasana sunyi senyap terjadi di tempat itu karena masing-masing dari mereka bertanya pada hati nurani. hasil kertas suara yang telah di coblos telah terkumpul. Mantan Ketua IPNU dan Ketua PAC IPNU membacakan hasil pemilihan tersebut bak pemilihan kepala desa. M. Idris Syah kerap terdengar sehingga ia mendapatkan suara terbanyak disusul oleh M. Agus walaupun selisih suara sangatlah nipis. Ririn mufidah juga terpilih menjadi ketua IPPNU walaupun saingan ia Ria Rahmayanti termasuk anggota PAC IPPNU bulululawang, sungguh peristiwa yang indah dan prestasi yang baik terjadi disana.

selamat dan sukses terucapkan kepada mereka berdua yaitu Muhammad Idris dan Ririn Mufidah yang terpilih menjadi ketua IPNU-IPPNU periode 2012-2013. jalan perjuangan terbentang dihadapan kalian bersemangatlah dan selalu memohon kepada Allah untuk salalu dimudahkan jalannya. Perjuangkan kemajuan Nahdlatul Ulama' dan syiarkan selalu Agama islam, jadilah agent Perubahan, yang merubah kebatilan menjadi Kebenaran, kesesatan menjadi lurus, kebodohan menjadi kepandaian, kedzoliman menjadi kasih sayang. tunjukan Kholifah di bumi ini yang terus membawa Rahmat untuk seluruh alam. jutaan mahkluk Allah akan selalu mendoakan kesalamatan dan kesuksesan mereka.Aminnnnn.


Wednesday, 4 April 2012

Hujan Tangis di SMPNU Bululawang Malang

HUJAN TANGIS DI SMP NU BULULAWANG MALANG
HADAPI UN 2012


Tangis ketakutan dan kekhawatiran siswa menjelang hadirnya sang momok pelajar saat ini yaitu Ujian Nasional (UN). ia datang sebagai satu ujian untuk menuju kesuksesan atau datang sebagai malapetaka atau sebagai indicator keberhasilan pendidikan, kecerdasan atau kebodohan siswa. Ia datang sebagai dilemma atau buah simalakama bagi siswa-siswa yang menangis histeris. Bagaimanapun Ujian nasional adalah sebuah langkah yang harus ditempuh oleh semua siswa, ketika sudah memasuki kelas 3 maka bayang-bayang ujian nasional terus membayangi, karena semua pihak selalu mengingatkan tentang waktu ujian nasional yang terus mendekat dan semakin susah soal-soalnya. Buat teman-teman yang akan mengikuti ujian nasional, Mereka menganggab ujian bukan hanya factor kemampuan tepi juga factor keburuntungan.

Ujian Nasional sampai sekarang menakutkan bagi beberapa peserta didik, orang tua murid dan guru. Tampaknya ketakutan ini tetap harus dihadapai bersama. Ikatan Pelajar Nahlatul Ulama’ (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama’ (IPPNU) kecamatan Bululawang berperan serta dalam menyiapkan mental dan memotivasi pelajar untuk menghadapi UN tersebut.

MOSTER disiapkan oleh pengurus IPNU-IPPNU untuk mendekengi siswa siswa dalam melawan momok yang akan datang nantinya. Dengan tujuan siswa siswa berani, siap dan penuh percaya diri menghadapi momok tersebut. Moster yang dihadirkan adalah moster yang berpengalaman dan bersertifikat yang bergerak dibidang emosional spiritual quetion ( ESQ) untuk membangkitkan inner power (kekuatan kesadaran) yang dikelola oleh Sekretaris PC IPNU Kota Malang Mufarrihul hazin, CH, CHt. yang juga sebagai direktur MOSTER ( MOtivasi Sepiritual centER )

IPNU-IPPNU Kecamatan Bululawang sebagai salah satu oraganisasi kader yang menentukan masa depan NU dan Bangsa ini tidak dapat menutup mata terhadap berbagai tantangan-tangan zaman. Dalam latar ruang social itulah IPNU-IPPNU Bululawang berinisiatif untuk masuk di lembaga-lembaga pendidikan dalam upaya kaderisasi dan regenerasi organisasi dalam bentuk Komisariat IPNU-IPPNU sekolah.

Untuk mengawali agenda tersebut Rabu, 04 April 2012 IPNU-IPPNU Bululawang mengelar Motivasi, Doa bersama di SMPNU Bululawang ini, dan juga Pengenalan IPNU-IPPNU terhadap pelajar. Hal ini sesuai dengan Himbauan dan rekomendasi Kepala Sekolah SMP NU Drs. Mahmudi, MPd. untuk perlunya didirikan komisariat IPNU-IPPNU di SMP NU Bululawang dengan segera. “Saya senang sekali dan heran anak-anak saya khususnya yg nakal-nakal malah menangis lebih histeris, harapan saya semoga acara seperti ini tetap berlanjut lebih-lebih tolong segera aja dibentuk itu komisariat IPNU-IPPNU” tutur Kepala Sekolah.

Harapan bersama semoga cucuran air mata dan doa yang tulus dari mereka terkabulkan sehingga pada akhirnya mereka dapat dengan tenang dan mudah menghadapi UN 2012 dengan nilai memuaskan dan L U L U S 100%. (Aff/Fhi)

Thursday, 29 March 2012

FESTIVAL ANAK SHOLEH 2012


           Momentum Maulid Nabi Muhammad dan Harlah IPNU diperingati di Desa Bakalan Kecamatan Bululawang Kabupaten Malang diperingati dengan diadakannya Festival Anak Sholeh 2012. acara yang cukup meriah dan penuh antusias diikuti oleh seluruh TPQ se-kecamatan Bululawang, 
            Dalam FAS 2012 ini ada 4 (empat) macam perlombaan yang dilombakan yakni:
1. PILDACIL ( Pilihan Da'I Cilik )
2. Lomba Adzan
3. LOmba Tartilul Qur'an
4. Lomba Mewarna
           FAS 2012 ini diketuai oleh Rekan M. Sa'dudin (Ketua I PAC IPNU) yang mengiring kesuksesan acara tersebut. Acara yang cukup mewah dan hebatnya lagi ketua pelaksana memberi keputusan untuk Pendaftaran Gratis dengan Konsumsi 2x untuk peserta sekaligus pembina.
            Festival tersebut mendapat dukungan penuh oleh PC IPNU-IPPNU Kab. Malang yang mendelegasikan 16 anggotanya untuk menjadi dewan juri dalam FAS 2012 ini. ucapan terima kasih setinggi-tingginya kami sampaikan atas suport dan Partisipasinya.
            Pembagian Tropy diserahkan pada malam hari pada puncak Maulid Nabi Muhammad dengan Pengajian Umum. yang di hadiri oleh Da'i Muda Pilihan ANTV M. Fadil dari NTB Finalis 5 besar, yang saat itu kehadiran M. Fadil bertepatan dengan Final Da'i Muda di ANTV, karena datang di bululawang Da'i Fadil tidak ikut hadir di ANTV akan tetapi hadir dalam Final Dai Muda di Desa Bakalan Bersama PAC IPNU-IPPNU Kec. bululawang.
           semangat terus untuk PAC IPNU-IPPNU Kec. Bululawang, Semangat, perjuangan, karya dan kreatifitas kalian yang ditunggu-tunggu oleh Agama, Nusa, Masyarakat dan Bangsa ini.

Wednesday, 28 March 2012

WAHABI

بسم الله الرحمن الرحيم

الحمد الله الذي اعلى الحق ونصر اصحابه ودحض الباطل وخدل احزابه والصلاة السلام على من انزل الله تعالى عليه كتابه.وجعله وسيلة لمن

طلب غفرانه ورجا ثوابه وشفييعا لمن قرط في جنبه فحاق عقابه . وعلى اله وصحبه الذي اتبعوا سننه وادبه. ونابوا بعده في نصر هذا الدين منابه ( اما بعد ) قال النبي صلى الله السلام : ستفرق امتي ثلاثا وسبعين فرقة كلها في النار الا واحدة. كما قال الصادق الامين . عليه االصلاة رب العالمين : فقد افترقت هذه الامة فرقا شتى خالف اكثرها ماجاء به الله ورسوله ومرق غالبها عن السننى الدين . وحاد من المحجة اليقين . ولكن الفرق الناجية هي التي اتبعت كتاب الله وسنة رسوله .

WAHABI DAN LAHIRNYA WAHABI

Wahabi didirikan oleh MUHAMMMAD BIN ABDIL WAHAB.Wahabi lahir pada Th.1143 H.Selama 50 th.Faham yang di bawa adalah faham yang menyimpang dari faham AHLUS SUNNAH WAL JAMA`AH

Dan orang yang membantunya dalam mensyiarkan fahamnya adalah raja MUHAMMAD SU`UD yang menjadi raja di negaraya MUSAILAMAH AL- KHADZAB (orang yang mengaku menjadi nabi ) . Raja Su`ud memaksa terhadap keluarganya untuk mengikuti faham ibnu abdil wahab. Dan dia berkata “

ما ادعوكم الا الى اتوحيد وترك الشرك الله تعالى من عبادته " “

‘Aku tidak mengajak kalian kecuali tauhid kepada allah dan meninggalkan syirik kepada-Nya “ .

Muhammad Bin Abdil Wahab lahir pd tahun 1111 H. Dan Matek pd th. 1207 H. Dia belajar di tanah haromain yaitu Makkah dan Madinah, di madinah dia belajar pada Syaikh SULAIMANN AL-KURDI dan Syaihk HAYATUSSANADI.Kedua gurunya tersebut berkata; سيضل الله تعالى هذا ويضل به من اشقاه من عباده “ Alloh S..W.T akan menyesatkan orang ini ( ibnu abdil wahab ) dan pengikutnya dan Alloh akan mencelakakan orang yang membantunya”.

Dan ayah Muhammad Bin Abdil Wahab adalah seorang ulama` yang sholeh dan ayahnya kwatir dan takut bila nanti dia menyimpang dari ajaran yang sesungguhnya sama halnya dengan adiknya yaitu syaikh SULAIMAN

Sehingga beliau mengarang sebuah kitab untuk menolak ideologi dan aqidah yang menyimpang.

Seperti yang di ceritakan ulama`- ulama` bahwa Muhammad Bin Abdil Wahab sangat suka sekali membaca karya –karya Musailamah, Muhammad Bin Abdil Wahab memerintahkan terhadap orang yang sudah haji yang sudah di lakukan sebelum mengikuti fahamnya untuk melakukan haji kembali dengan perkataanya :

ان حجتك الاولى غير مقببولة لانك حجتها وانت مشرك

“ Sesungguhnya haji yang pertama yang telah kamu lakukan tidaklah di terima karna kamu dalam keadaan musrik “

على نفسك انك كنت كافرا واشهد على والديك انهما ماتا كافرين واشهد على فلان وفلان ( ويسمى له جماعة من اكابر العلماء الماضين) اشهد

انهم كانوا كفارا

“ Saya bersaksi terhadap diri kamu bahwa sesungguhya kamu kafir. Saya bersaksi terhadap kedua orang tuamu bahwa sesungguhya mereka kafir. Saya bersaksi terhadap para ulama` terdahulu bahwa sesungguhya mereka semua kafir “. Muhammad Bin Abdil Wahab memerintahkan untuk membunuh terhadap orang yang membangkang terhadap perkataannya. Muhammad Bin Abdil Wahab memusrikkan terhadap orang yang tidak mengikuti fahamnya dan menghalalkan darah dan hartanya.

Muhammad Bin Abdil Wahab menghina rosululoh dengan kata -kata ( طارش) yang menggunakan ma`na (شخص) artinya apa yang di wahyukan terhadap rosul itu tidak untuk di sebarkan akan tetapi untuk dirinya sendiri. Juga dia mengatakan bahwa cerita tentang perang hudaibiyyah adalah sebuah kebohongan,dengan perkataanya :

اني نظرت في قصة الحديبية فوجدت فيها كذا وكذا من الكذاب

Muhammad Bin Abdil Wahab mengatakan lebih baik dari pada nabi Muhammad dengan perkataanya :

ان عاصاى هذه خير من محمد لاني انتفع بها ومحمد قد مات فلم يبقى فيه نفع

“ Saya lebih baik dari pada Muhammad karna saya lebih bermanfaat dari padanya dan muhammad dia sudah mati sudah tidak bermanfaat lagi”. Dan dia (ibnu abdil wahab ) menganggap kafir terhadap 4 madzhab yaitu imam hambali, imam maliki, imam hanafi dan imam syafi`i yang di anut oleh kalangan AHLUSS SUNAH WAL JAMA`AH .dalam hadist Qudsy yang di riwayatkan oleh Imam bukhari dari sahabaat Harairah Alloh berkata :

من عادى لي وليا فقد اذنته بالحرب

″ Barang siapa yang telah memusuhi wali –Ku ( Alloh) maka sesungguhnya aku ( Alloh ) menyataka perang kepadanya ″

Juga dia sangat benci dengan bersholawat pada nabi Muhammad dan membakar kitab- kitab yang menjelaskan tentang sholawat seperti; DALAILUL KHOIROT,FIQIH , TAFSIR dan HADIST.yaitu kitab – kitab yang menjelaskan tentang sholawat terhadap nabi muhammad dan kitab – kitab yang berlawanan dengan fahamnya yang bodoh dan bathil.dan Ibnu abdil wahab memperbolehkan menafsiri AL-QUR`AN menurut pemikiran dan kefahamannya sendiri.

Alloh berfirman :

ان الله والملئكته يصلون على النبي ياايها الذين امنوا صلوا عليه وسلم تسليما

″Sesungguhnya Alloh dan para malaikatnya bersholawat terhadap nabi wahai orang - orang yang beriman bersholawatlah kalian semua kepada nabi dan ucapkan salam penghormatan kepadanya″

Dari ayat ini jelas bahwa Alloh yang menciptakan alam semesta besertaan isinya dan malaikat mahluk yang taat kepada alloh bersholawat pada nabi muhammad kenapa kita tidak.....??jelas sudah mana ideologi yang benar menurut Al-Qur`an dan Hadist.

Muhammad Bin Adbil Wahab mengkafir- kafirkan manusia yang tidak mengikuti fahamnya dengan berpegang pada ayat yang menjelaskan orang musyrik ,ayat inilah yang di buat hujjah oleh ibnu abdil wahab terhadap ulama` - ulama` ahli tauhid, imam Bukhori meriwayatkan sebuah hadist dari Abdulloh Bin Umar R.A. Di dalam sifat – sifatnya kaum khuwarij Bahwa mereka ( khuwarij) menjadikan ayat yang menjelaskan tentang orang kafir sebagai hujjah untuk kaum mu`minin. Juga hadist dari Abdulloh Bin Umar R.A. bahwa rosulloh bersabda :

اخوف ما اخاف على امتي رجل متأول للقرأن يضعه في غير موضعه

“ Perkara yang lebih mengkhawatiran dari ummatku addalah orang laki – laki yang menta`wili Al – Qur`an dan menempatkan Al – Qur`an bukan pada tempatnya “. Dan Muhammad Bin Adbil Wahab membenarkan terhadap hadist ini, akan tetapi Muhammad Bin Adbil Wahab tidak menerima atas Nabi Muhammad sebagai nabi dan rosul, Muhammad Bin Adbil Wahab menerima Al – Qur`an sebagai kitab suci .Dan Muhammad Bin Adbil Wahab tidak pernah menceritakan sebuah hadist atau perkataan ulama`, Muhammad Bin Adbil Wahab tidak pernah berpengang pada dalil Al – Qur`an dan Hadist. Dan dia tidak mengambil ijma` ( kesepakatan) dan qiyasnya ulama` . Muhammad Bin Adbil Wahab mengaku – ngaku bahwa dia dari golongan dari ulama` IMAM AHMAD ( Imam Ahmad Bin Hambal), akan tetapi Imam Ahmad Bin Hambal (Imam Hambali)) menolak terhadap pengakuan Muhammad Bin Adbil Wahab. Sehingga terbesit keinginan adik dari Muhammad Bin Adbil Wahab yaitu Syaihk Sulaiman Bin Adbil Wahab mengarang sebuah kitab yang mengulas tentang kesesataan dan penyimpangan Muhammad Bin Adbil Wahab dan kitab itu di beri nama dengan FAJAR SHODIQ yag menjadi mata pelajaran di Pon-Pes LIRBOYO Kediri.

Menerima apa yang dibawa tapi tidak menerima siapa yang membawa......!!! Konyolkan..........!!

Sayyid Alwi Al-Haddad mengatakan bahwa ″ perkataan dan perbuatan yang di lakkukan oleh Muhammad Bin Adbil Wahab yaitu menghina terhadap Nabi,Rosul, para Wali dan Orang- Orang Sholeh atau Ulama`.Dan meghina Nabi,Rosul, para Wali dan Orang- Orang Sholeh atau Ulama` menurut Sayyid Alwi Al - Haddad dan ijma`nya para ulama` 4 madzhab adalah KAFIR.....sekarang bisa kita ketahui mana yang kafir.....???

KITA ( NU) Atau WAHABI.....??? HAHAHAHAHAHAHAHA PIKIREN COOOOYYYY..... JO SUKUR MELOOOK AE...................!!! BEN ORA KOYOK SAPI..........!!!

Dan apakah WAHABI termasuk dari golongan AHLUSSUNNAAH WAL JAMA`AH......??? yuk kita baca naskah di bawah ini.

هذه الآية نزلت في الخوارج الذين يحرفون تأويل الكتاب والسنة ويستحلون بذلك دماء المسلمين وأموالهم كما هو مشاهد الآن في نظائرهم وهم فرقة بأرض الحجاز يقال لهم الوهابية يحسبون أنهم على شيء الا إنهم هم الكاذبون. (تفسير الصاوي، 3/307

• Imam al-Shawi berkata: “Wahhabi itu Khawarij, bukan Ahlussunnah Wal-Jama’ah.” (Tafsir al-Shawi 3/307).

• Al-Imam Ibn Abidin al-Hanafi berkata dalam kitabnya, Radd al-Muhtar, juz 6, hal. 413, bahwa Wahhabi Khawarij, bukan Ahlussunnah Wal-Jama’ah.

ALANGKAH BODOHNYA KITA, JIKA PERCAYA PADA ORANG YANG TIDAK SUKA PADA NABI KITA TERCINTA..............!!!!

Bersambung Choooooooooooooyyyyy.................!!!

Daftar Rujukan: fajar Shodiq karya sayyid SULAIMAN BIN ABDIL WAHAB

Tuesday, 27 March 2012

Pelantikan PR IPNU-IPPNU Ranting Kasri

Hari Ahad, tanggal 25 Maret 2012 di desa Kasri Kec. Bululawang Kab. Malang, Prosesi Pelantikan yang sakral dan penuh hikmah terlaksana di desa yang asri nan jauh dari keramaian lalu lintas tranportasi. Pelantikan yang penuh barakoh dan kemulyaan telah menjadi pengalaman istimewa bagi Pengurus Baru IPNU-IPPNU Ranting kasri yang dilaksanakan dengan didahului dengan Festival Da'i Cilik Se-Kab. Malang yang di ikuti oleh 75 Peserta se-kab. malang, yang dimulai jam 08.00 dan berakhir pada jam 16.30 Wib.

Tropy Hadiah Juara dan Tabungan Pendidikan Bagi para pemenang Festival ini
di berikan langsung oleh Dai Muda Pilihan ANTV M. Fadil dari Jakarta, dengan disaksikan dan
dihadiri oleh PW IPNU Jawa Timur. DKW CBP Jawatimur, PC IPNU Kab. Malang dan Komandan CBP DKC Kab. Malang.

Ucapan Selamat Belajar, Berjuang dan Bertaqwa disampaikan Oleh Ketua PC IPNU Rekan M. Faizul Fuad untuk Ketua PR IPNU Rekam M. Rif'atulloh dan Ketua PR IPPNU Afika beserta Jajarannya.

M. lutfi A'nur Rofiq sebagai pembina dan M. Saikhu Kepala desa Kasri sebagai pelindung sangat berharap dengan pelantikan tersebut dapat mengangkat dan memajukan kegiatan sosial keagaaman dan semangat para pemuda pemudi desa kasri sehingga kelak diharapkan menjadi kader-kader NU yang berpotensi siap untuk terjun untuk memajukan Agama, Nusa dan Bangsa.

Ucapan selamat dan Sukses Untuk kalian semua PR IPNU-IPPNU ranting kasri

Monday, 11 July 2011

Persiapan Puasa

imagebam.com
Persiapan Menyambut puasa Ramadhan Bulan Penuh Berkah dan ampunan. Ramadhan merupakan bulan penuh berkah, bulan yang penuh berkah dari berbagai sisi kebaikan. Sebab itu, umat Islam hendaklah mengambil keberkahan Ramadhan dari berbagai aktifitas positip dan bisa memajukan Islam dan pemeluk Islam. Meliputi dari sisi ekonomi, sosial, peradaban, budaya, dan pemberdayaan umat manusia. Namun demikian semua kegiatan yang positip itu tidak harus mengganggu kekhusuan dalam ibadah ramadhan terutama di sepuluh hari terakhir puasa bulan Ramadhan. Rasulullah SAW. menjadikan bulan puasa ramadhan sebagai bulan yang penuh aktivitas dan amaliah positif. Selain yang telah dijelaskan seperti tersebut di atas, beliau juga aktip melakukan aktifitas sosial kemasyarakatan.

Persiapan Mental
Persiapan mental untuk menjalankan ibadah puasa dan ibadah terkait lainnya sangatlah penting. Apalagi pada menjelang 10 hari hari terakhir, karena ajakan keluarga yang menginginkan belanja mempersiapkan hari raya Idul Fitri, pulang kampung, beli pakaian dll, sangat mempengaruhi umat Islam dalam menunaikan kekhusuan ibadah puasa Ramadhan. Kesuksesan ibadah bulan Ramadhan seorang muslim bisa dilihat dari akhirnya. Jika akhir bulan Ramadhan diisi dengan i’tikaf dan taqarrub yang lainnya, maka insya Allah dia termasuk yg berhasil dan sukses dalam menjalankan ibadah Ramadhan.

Persiapan ruhiyah (spiritual)
Persiapan ruhiyah dapat dilaksanakan dengan meningkatkan ibadah, seperti memperbanyak membaca AlQuran saum sunnah, berdzikir, berdo’a dll. Dalam hal mempersiapkan ruhiyah, Rasulullah SAW. memberi contoh kepada umatnya yaitu dengan memperbanyak puasa di bulan Sya’ban, sebagaimana yang diriwayatkan oleh ‘Aisyah RA. berkata:” Saya tidak melihat Rasulullah SAW. menyempurnakan puasanya, kecuali pada bulan Ramadhan. Dan saya tidak melihat dalam satu bulan yang lebih banyak puasanya kecuali pada bulan Sya’ban” (HR Muslim).

Persiapan fikriyah
Persiapan fikriyah atau akal dilakukan dengan mendalami ilmu, khususnya ilmu yang terkait dengan ibadah Ramadhan. Banyak orang yang berpuasa tidak menghasilan kecuali lapar dan dahaga. Hal ini dilakukan karena puasanya tidak dilandasi dengan ilmu yang cukup. Seorang yang beramal tanpa ilmu, maka tidak menghasilkan kecuali kesia-siaan belaka.

Persiapan Fisik dan Materi
Seorang muslim tidak akan mampu atau berbuat maksimal dalam berpuasa jika fisiknya sakit. Oleh karena itu mereka dituntut untuk menjaga kesehatan fisik, kebersihan rumah, masjid dan lingkungan. Rasulullah mencontohkan kepada umat agar selama berpuasa tetap memperhatikan kesehatan. Hal ini terlihat dari beberapa peristiwa di bawah ini :
• Menyikat gigi dengan siwak (HR. Bukhori dan Abu Daud).
• Berobat seperti dengan berbekam (Al-Hijamah) seperti yang diriwayatkan Bukhori dan Muslim.
• Memperhatikan penampilan, seperti pernah diwasiatkan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam kepada sahabat Abdullah ibnu Mas’ud ra, agar memulai puasa dengan penampilan baik dan tidak dengan wajah yang cemberut. (HR. Al-Haitsami).

Sarana penunjang yang lain yang harus disiapkan adalah materi yang halal untuk bekal ibadah Ramadhan. Idealnya seorang muslim telah menabung selama 11 bulan sebagai bekal ibadah Ramadhan. Sehingga ketika datang Ramadhan, dia dapat beribadah secara khusu’ dan tidak berlebihan atau ngoyo dalam mencari harta atau kegiatan lain yang mengganggu kekhusu’an ibadah Ramadhan.

Merencanakan Peningkatan Prestasi Ibadah (Syahrul Ibadah)
Ibadah Ramadhan dari tahun ke tahun harus meningkat. Tahun depan harus lebih baik dari tahun ini, dan tahun ini harus lebih baik dari tahun lalu. Ibadah Ramadhan yang kita lakukan harus dapat merubah dan memberikan output yang positif. Perubahan pribadi, perubahan keluarga, perubahan masyarakat dan perubahan sebuah bangsa. Allah SWT berfirman : « Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri » (QS AR- Ra’du 11). Diantara bentuk-bentuk peningkatan amal Ibadah seorang muslim di bulan Ramadhan, misalnya; peningkatan, ibadah puasa, peningkatan dalam tilawah Al-Qur’an, hafalan, pemahaman dan pengamalan. Peningkatan dalam aktifitas sosial, seperti: infak, memberi makan kepada tetangga dan fakir-miskin, santunan terhadap anak yatim, beasiswa terhadap siswa yang membutuhkan dan meringankan beban umat Islam. Juga merencanakan untuk mengurangi pola hidup konsumtif dan memantapkan tekad untuk tidak membelanjakan hartanya, kecuali kepada pedagang dan produksi negeri kaum muslimin, kecuali dalam keadaan yang sulit (haraj).

Menjadikan Ramadhan sebagai Syahrut Taubah (Bulan Taubat)
Bulan Ramadhan adalah bulan dimana syetan dibelenggu, hawa nafsu dikendalikan dengan puasa, pintu neraka ditutup dan pintu surga dibuka. Sehingga bulan Ramadhan adalah bulan yang sangat kondusif untuk bertaubat dan memulai hidup baru dengan langkah baru yang lebih Islami. Taubat berarti meninggalkan kemaksiatan, dosa dan kesalahan serta kembali kepada kebenaran. Atau kembalinya hamba kepada Allah SWT, meninggalkan jalan orang yang dimurkai dan jalan orang yang sesat.

Taubat bukan hanya terkait dengan meninggalkan kemaksiatan, tetapi juga terkait dengan pelaksanaan perintah Allah. Orang yang bertaubat masuk kelompok yang beruntung. Allah SWT. berfirman: “Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung” (QS An-Nuur 31).

Oleh karena itu, di bulan bulan Ramadhan orang-orang beriman harus memperbanyak istighfar dan taubah kepada Allah SWT. Mengakui kesalahan dan meminta ma’af kepada sesama manusia yang dizhaliminya serta mengembalikan hak-hak mereka. Taubah dan istighfar menjadi syarat utama untuk mendapat maghfiroh (ampunan), rahmat dan karunia Allah SWT. “Dan (dia berkata): “Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa.” (QS Hud 52)

Menjadikan bulan Ramadhan sebagai Syahrut Tarbiyah, Da’wah
Bulan Ramadhan harus dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh para da’i dan ulama untuk melakukan da’wah dan tarbiyah. Terus melakukan gerakan reformasi (harakatul ishlah). Membuka pintu-pintu hidayah dan menebar kasih sayang bagi sesama. Meningkatkan kepekaan untuk menolak kezhaliman dan kemaksiatan. Menyebarkan syiar Islam dan meramaikan masjid dengan aktifitas ta’lim, kajian kitab, diskusi, ceramah dll, sampai terwujud perubahan-perubahan yang esensial dan positif dalam berbagai bidang kehidupan. Ramadhan bukan bulan istirahat yang menyebabkan mesin-mesin kebaikan berhenti bekerja, tetapi momentum tahunan terbesar untuk segala jenis kebaikan, sehingga kebaikan itulah yang dominan atas keburukan. Dan dominasi kebaikan bukan hanya dibulan Ramadhan, tetapi juga diluar Ramadhan.

Menjadikan Ramadhan sebagai Syahrul Muhasabah (Bulan Evaluasi)
Dan terakhir, semua ibadah Ramadhan yang telah dilakukan tidak boleh lepas dari muhasabah atau evaluasi. Muhasabah terhadap langkah-langkah yang telah kita perbuat dengan senantiasa menajamkan mata hati (bashirah), sehingga kita tidak menjadi orang/kelompok yang selalu mencari-cari kesalahan orang/kelompok lain tanpa mau bergeser dari perbuatan kita sendiri yang mungkin jelas kesalahannya. Semoga Allah SWT senantiasa menerima shiyam kita dan amal shaleh lainnya dan mudah-mudahan tarhib ini dapat membangkitkan semangat beribadah kita sekalian sehingga membuka peluang bagi terwujudnya Indonesia yang lebih baik, lebih aman, lebih adil dan lebih sejahtera. Dan itu baru akan terwujud jika bangsa ini yang mayoritasnya adalah umat Islam kembali kepada Syariat Allah. []

Tuesday, 28 June 2011

Ustad Narko Bercerita bagini: baca rekan


Nabi Musa AS suatu hari sedang berjalan-jalan melihat keadaan ummatnya. Nabi Musa AS melihat seseorang sedang beribadah. Umur orang itu lebih dari 500 tahun. Orang itu adalah seorang yang ahli ibadah. Nabi Musa AS kemudian menyapa dan mendekatinya. Setelah berbicara sejenak ahli ibadah itu bertanya kepada Nabi Musa AS, Wahai Musa AS aku telah beribadah kepada Allah SWT selama 350 tahun tanpa melakukan perbuatan dosa. Di manakah Allah SWT akan meletakkanku di Sorga-Nya?. Tolong sampaikan pertanyaanku ini kepada Allah. Nabi Musa AS mengabulkan permintaan orang itu. Nabi Musa AS kemudian bermunajat memohon kepada Allah SWT agar Allah SWT memberitahukan kepadanya di mana ummatnya ini akan ditempatkan di akhirat kelak. Allah SWT berfirman, "Wahai Musa (AS) sampaikanlah kepadanya bahwa Aku akan meletakkannya di dasar Neraka-Ku yang paling dalam". Nabi Musa AS kemudian mengabarkan kepada orang tersebut apa yang telah difirmankan Allah SWT kepadanya. Ahli ibadah itu terkejut. Dengan perasaan sedih ia beranjak dari hadapan Nabi Musa AS. Malamnya ahli ibadah itu terus berfikir mengenai keadaan dirinya. Ia juga mulai terfikir bagai mana dengan keadaan saudara-saudaranya, temannya, dan orang lain yang mereka baru beribadah selama 200 tahun, 300 tahun, dan mereka yang belum beribadah sebanyak dirinya, di mana lagi tempat mereka kelak di akhirat. Keesokan harinya ia menjumpai Nabi Musa AS kembali. Ia kemudian berkata kepada Nabi Musa AS, "Wahai Musa AS, aku rela Allah SWT memasukkan aku ke dalam Neraka-Nya, akan tetapi aku meminta satu permohonan. Aku mohon agar setelah tubuhku ini dimasukkan ke dalam Neraka maka jadikanlah tubuhku ini sebesar-besarnya sehingga seluruh pintu Neraka tertutup oleh tubuhku jadi tidak akan ada seorang pun akan masuk ke dalamnya". Nabi Musa AS menyampaikan permohonan orang itu kepada Allah SWT. Setelah mendengar apa yang disampaikan oleh Nabi Musa AS maka Allah SWT berfirman, "Wahai Musa (AS) sampaikanlah kepada ummatmu itu bahwa sekarang Aku akan menempatkannya di Surga-Ku yang paling tinggi".

Onta Bisa Bicara gara2 bersholawat


Pada zaman Rasulullah s.a.w, ada seorang Yahudi yang menuduh orang Muslim mencuri untanya. Maka dia datangkan empat orang saksi palsu dari golongan munafik. Nabi s.a.w lalu memutuskan hukum unta itu milik orang Yahudi dan memotong tangan Muslim itu sehingga orang Muslim itu kebingungan. Maka ia pun mengangkatkan kepalanya menengadah ke langit seraya berkata, "Tuhanku, Engkau Maha Mengetahui bahwa sesungguhnya aku tidak mencuri unta itu."
Selanjutnya orang Muslim itu berkata kepada Nabi s.a.w, "Wahai Rasulullah, sungguh keputusanmu itu adalah benar, akan tetapi mintalah keterangan dari unta ini."

Kemudian Nabi s.a.w bertanya kepada unta itu, "Hai unta, milik siapakah engkau ini ?"
Unta itu menjawab dengan kata-kata yang fasih dan terang, "Wahai Rasulullah, aku adalah milik orang Muslim ini dan sesungguhnya para saksi itu adalah dusta."
Akhirnya Rasulullah s.a.w berkata kepada orang Muslim itu, "Hai orang Muslim, beritahukan kepadaku, apakah yang engkau perbuat, sehingga Allah Taala menjadikan unta ini dapat bercakap perkara yang benar."
Jawab orang Muslim itu, "Wahai Rasulullah, aku tidak tidur di waktu malam sehingga lebih dahulu aku membaca selawat ke atas engkau sepuluh kali."

Rasulullah s.a.w bersabda,
"Engkau telah selamat dari hukum potong tanganmu di dunia dan selamat juga dari seksaan di akhirat nantinya dengan sebab berkatnya engkau membaca selawat untukku."
Memang membaca selawat itu sangat digalakkan oleh agama sebab pahala-pahalanya sangat tinggi di sisi Allah. Lagi pula boleh melindungi diri dari segala macam bencana yang menimpa, baik di dunia dan di akhirat nanti. Sebagaimana dalam kisah tadi, orang Muslim yang dituduh mencuri itu mendapat perlindungan daripada Allah melalui seekor unta yang menghakimkannya.

Monday, 13 June 2011

Motivasi Kehidupan


DOA YANG DIKABULKAN



[1]. Doa Seorang Muslim Terhadap Saudaranya Dari Tempat Yang Jauh

Dari Abu Darda' bahwa dia berkata bahwasanya Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.

"Artinya : Tidaklah seorang muslim berdoa untuk saudaranya yang tidak di hadapannya, maka malaikat yang ditugaskan kepadanya berkata : "Amin, dan bagimu seperti yang kau doakan". [Shahih Muslim, kitab Doa wa Dzikir bab Fadli Doa fi Dahril Ghalib].

Imam An-Nawawi berkata bahwa hadits di atas menjelaskan tentang keutamaan seorang muslim mendoakan saudaranya dari tempat yang jauh, jika seandainya dia mendoakan sejumlah atau sekelompok umat Islam, maka tetap mendapatkan keutamaan tersebut. Oleh sebab itu sebagian ulama salaf tatkala berdoa untuk diri sendiri dia menyertakan saudaranya dalam doa tersebut, karena disamping terkabul dia akan mendapatkan sesuatu semisalnya. [Syarh Shahih Muslim karya Imam An-Nawawi 17/49]

Dari Shafwan bin Abdullah bahwa dia berkata : Saya tiba di negeri Syam lalu saya menemui Abu Darda' di rumahnya, tetapi saya hanya bertemu dengan Ummu Darda' dan dia berkata : Apakah kamu ingin menunaikan haji tahun ini ? Saya menjawab : Ya. Dia berkata : Doakanlah kebaikan untuk kami karena Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda.

"Artinya : Doa seorang muslim untuk saudaranya yang tidak ada di hadapannya terkabulkan dan disaksikan oleh malaikat yang ditugaskan kepadanya, tatkala dia berdoa untuk saudaranya, maka malaikat yang di tugaskan kepadanya mengucapkan : Amiin da bagimu seperti yang kau doakan". Shafwan berkata : "Lalu saya keluar menuju pasar dan bertemu dengan Abu Darda', beliau juga mengutarakan seperti itu dan dia meriwayatkannya dari Nabi. [Shahih Muslim, kitab Dzikir wa Doa bab Fadlud Doa Lil Muslimin fi Dahril Ghaib 8/86-87]

Syaikh Al-Mubarak Furi berkata bahwa jika seorang muslim mendoakan saudaranya kebaikan dari tempat yang jauh dan tanpa diketahui oleh saudara tersebut, maka doa tersebut akan dikabulkan, sebab doa seperti itu lebih berbobot dan ikhlas karena jauh dari riya dan sum'ah serta berharap imbalan sehingga lebih diterima oleh Allah. [Mir'atul Mafatih 7/349-350]

Catatan.
Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata bahwa Imam Karmani menukil dari Al-Qafary bahwa ucapan doa seorang : "Ya Allah ampunilah dosa semua kaum muslimin" adalah doa terhadap sesuatu yang mustahil sebab pelaku dosa besar mungkin masuk Neraka dan masuk Neraka bertolak belakang dengan permohonan pengampunan, bisa saja pelaku dosa besar di doakan, sebab yang mustahil adalah mendoakan pelaku dosa besar yang kekal di Neraka, selagi masih bisa keluar karena syafaat atau dimaafkan, maka itu termasukpengampunansecarakeseluruhan.

Ucapan orang di atas bertentangan dengan doa Nabi Nuh 'Alaihis Salam dalam firman AllahSubhanahuwaTa'ala.

"Artinya : Ya Rabb! Ampunilah aku, ibu bapakku, orang-orang mukmin yang masuk ke rumahku dan semua orang yang beriman laki-laki dan perempuan". [Nuh : 28].

Dan juga bertentangan dengan doa Nabi Ibrahim 'Alaihis Salam dalam firman Allah SubhanahuwaTa'ala.

"Artinya : Ya Rabbi, ampunilah aku dan kedua ibu bapakku dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab". [Ibrahim : 41]

Serta Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam juga diperintahkan seperti itu yang
terdapat dalam firman Allah Subhanahu wa Ta'ala.

"Artinya : Dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan". [Muhammad : 19]

Yang jelas permohonan dengan lafazh umum tidak mengharuskan permohonan untuk setiap orang secara kolektif. Mungkin yang dimaksud oleh Al-Qafary bahwa mendoakan kaum muslimin secara kolektif dilarang bila seorang yang berdoa menginginkan keseluruhan tanpa pengecualian dan bukan pelarangan terhadap syariat doanya. [Fathul Bari 11/202]

[2]. Orang yang Memperbanyak Berdoa Pada Saat Lapang Dan Bahagia

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.


"Artinya :Barangsiapa yang ingin doanya terkabul pada saat sedih dan susah, maka hendaklah memperbanyak berdoa pada saat lapang". [Sunan At-Tirmidzi, kitab Da'awaat bab Da'watil Muslim Mustajabah 12/274. Hakim dalam Mustadrak. Dishahihkan oleh Imam Dzahabi 1/544. Dan di hasankan oleh Al-Albani No. 2693].

Syaikh Al-Mubarak Furi berkata bahwa makna hadits di atas adalah hendaknya seseorang memperbanyak doa pada saat sehat, kecukupan dan selamat dari cobaan, sebab ciri seorang mukmin adalah selalu dalam keadaan siaga sebelum membidikkan panah. Maka sangat baik jika seorang mukmin selalu berdoa kepada Allah sebelum datang bencana berbeda dengan orang kafir dan zhalim sebagaimana firman Allah SubhanahuwaTa'ala.

"Artinya : Dan apabila manusia itu ditimpa kemudharatan, dia memohon (pertolongan) kepada Tuhannya dengan kembali kepada-Nya ; kemudian apabila Tuhan memberikan nikmat-Nya kepadanya lupalah dia akan kemudharatan yang pernah dia berdoa (kepada Allah) untuk (menghilangkannya) sebelum itu". [Az-Zumar : 8].

DanfirmanAllah.

"Artinya : Dan apabila manusia ditimpa bahaya dia berdoa kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk atau berdiri, tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu daripadanya, dia (kembali) melalui (jalannya yang sesat), seolah-olah dia tidak pernah berdoa kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya". [Yunus : 12. Mir'atul Mafatih7/360]

Wahai orang yang ingin dikabulkan doanya, perbanyaklah berdoa pada waktu lapang agar doa Anda dikabulkan pada saat lapang dan sempit.


[3].OrangYangTeraniaya

Dari Mu'adz bin Jabal Radhiyallahu 'anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallambersabda.

"Artinya : Takutlah kepada doa orang-orang yang teraniyaya, sebab tidak ada hijab antaranya dengan Allah (untuk mengabulkan)". [Shahih Muslim, kitab Iman 1/37-38]

Dari Abu Hurairah bahwa dia berkata bahwasanya Rasulullah bersabda.

"Artinya : Doanya orang yang teraniaya terkabulkan, apabila dia seorang durhaka, maka kedurhakaannya akan kembali kepada diri sendiri". [Musnad Ahmad 2/367. Dihasankan sanadnya oleh Mundziri dalam Targhib 3/87 dan Haitsami dalam Majma' Zawaid 10/151, dan Imam 'Ajluni No. 1302]

[4] & [5]. Doa Orang Tua Terhadap Anaknya Dan Doa Seorang Musafir.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda.

"Artinya : Tiga orang yang doanya pasti terkabulkan ; doa orang yang teraniyaya;doa seorang musafir dan doa orang tua terhadap anaknya". [Sunan Abu Daud, kitab Shalat bab Do'a bi Dhahril Ghaib 2/89. Sunan At-Tirmidzi, kitab Al-Bir bab Doaul Walidain 8/98-99. Sunan Ibnu Majah, kitab Doa 2/348 No. 3908. Musnad Ahmad 2/478. Dihasankan Al-Albani dalam Silsilah Shahihah No. 596]

[6].DoaOrangYangSedangPuasa

Dari Anas bin Malik Radhiyallahu 'anhu bahwa dia berkata bahwasanya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.

"Artinya : Tiga doa yang tidak ditolak ; doa orang tua terhadap anaknya ; doa orang yang sedang berpuasa dan doa seorang musafir". [Sunan Baihaqi, kitab Shalat Istisqa bab Istihbab Siyam Lil Istisqa' 3/345. Dishahihkan oelh Al-Albani dalam Silsilah Shahihah No. 1797].

[7]. Doa Orang Dalam Keadaan Terpaksa.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman.

"Artinya : Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepadanya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi ? Apakah disamping Allah ada tuhan (yang lain)? Amat sedikitlah kamu menginga(Nya)". [An-Naml : 62]

Imam As-Syaukani berkata bahwa ayat diatas menjelaskan betapa manusia sangat membutuhkan Allah dalam segala hal terlebih orang yang dalam keadaan terpaksa yang tidak mempunyai daya dan upaya. Sebagian ulama berpendapat bahwa yang dimaksud dengan orang terpaksa adalah orang-orang yang berdosa dan sebagian yang lain berpendapat bahwa yang dimaksud terpaksa adalah orang-orang yang hidup dalam kekurangan, kesempitan atau sakit, sehingga harus mengadu kepada Allah. Dan huruf lam dalam kalimat Al-Mudhthar untuk menjelaskan jenis bukan istighraq (keseluruhan). Maka boleh jadi ada sebagian orang yang berdoa dalam keadaan terpaksa tidak dikabulkan dikarenakan adanya penghalang yang menghalangi terkabulnya doa tersebut. Jika tidak ada penghalang, maka Allah telah menjamin bahwa doa orang dalam keadaan terpaksa pasti dikabulkan. Yang menjadi alasan doa tersebut dikabulkan karena kondisi terpaksa bisa mendorong seseorang untuk ikhlas berdoa dan tidak meminta kepada selain-Nya. Allah telah mengabulkan doa orang-orang yang ikhlas berdoa meskipun dari orang kafir, sebagaimana firman Allah.

"Artinya : Sehingga tatkala kamu di dalam bahtera, dan meluncurkan bahtera itu membawa orang-orang yang ada di dalamnya dengan tiupan angin yang baik, dan mereka bergembira karenanya, datanglah angin badai, dan (apabila) gelombang dari segenap penjuru menimpanya, dan mereka yakin bahwa mereka telah terkepung (bahaya), maka mereka berdoa kepada Allah dengan mengikhlaskan keta'atan kepada-Nya semata-mata'. (Mereka berkata) : 'Sesungguhnya jika Engkau menyelamatkan kami dari bahaya ini, pastilah kami termasuk orang-orang yang bersyukur". [Yunus : 22]

Dan Allah berfirman dalam ayat lain

"Artinya : Maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka (kembali) mempersekutukan (Alla)". [Al-Ankabut : 65].

Dari ayat di atas Allah mengabulkan doa mereka, padahal Allah tahu bahwa mereka pasti akan kembali kepada kesyirikan. [Fathul Qadir 4/146-147]

Imam Ibnu Katsir berkata bahwa Imam Hafizh Ibnu 'Asakir mengisahkan seorang yang bernama Abu Bakar Muhammad bin Daud Ad-Dainuri yang terkenal dengan kezuhudannya. Orang tersebut berkata : "Saya menyewakan kuda tunggangan dari Damaskus ke negeri Zabidany, pada satu ketika ada seorang menyewa kuda saya dan meminta untuk melewati jalan yang tidak pernah saya kenal sebelumnya", Dia berkata : "Ambillah jalan ini karena lebih dekat". Saya bertanya : "Bolehkah saya memilih jalan ini", Dia berkata : "Bahkan jalan ini lebih dekat". Akhirnya kami berdua menempuh jalan itu sehingga kami sampai pada suatu tempat yang angker dan jurangnya yang sangat curam yang di dalamnya terdapat banyak mayat. Orang tersebut berkata : "Peganglah kepala kudamu, saya akan turun". Setelah dia turun dan menyingsingkan baju lalu menghunuskan golok bermaksud ingin membunuh saya, lalu saya melarikan diri darinya, akan tetapi dia mampu mengejarku. Saya katakan kepadanya : "Ambillah kudaku dan semua yang ada padanya". Dia berkata : "Kuda itu sudah milikku, tetapi aku ingin membunuhmu". Saya mencoba menasehati agar dia takut kepada Allah dan siksaan-Nya tetapi ternyata dia seorang yang tidak mudah menerima nasehat, akhirnya saya menyerahkan diri kepadanya.

Saya berkata kepadanya : "Apakah anda mengizinkan saya untuk shalat?" Dia berkata : "Cepat shalatlah!" Lalu saya beranjak untuk shalat akan tetapi badan saya gemetar sehingga saya tidak mampu membaca ayat Al-Qur'an sedikitpun dan hanya berdiri kebingungan. Dia berkata : "cepat selesaikan shalatmu!", maka setelah itu seakan-akan Allah membukakan mulut saya dengan suatu ayat yang berbunyi.

"Artinya : Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepadanya, dan yang menghilangkan kesusahan". [An-Naml : 62]

Tidak terduga muncul dari mulut bukit seorang satria datang ke arah kami dengan menggemgam tombak di tangannya, lalu melempar tombak tersebut ke arah orang tadi dan tombak pun mengenai jantungnya lalu seketika itu orang tersebut langsung mati terkapar. Setelah itu, maka saya memegang erat-erat satria tersebut dan saya bertanya : "Demi Allah siapakah engkau sebenarnya?" Dia mejawab : "Saya adalah utusan Dzat Yang Maha Mengabulkan permohonan orang-orang yang dalam keadaan terpaksa tatkala dia berdoa dan menghilangkan segala malapetaka". Kemudian saya mengambil kuda dan semua harta lalu pulang dalam keadaan selamat. [Tafsir Ibnu Katsir 3/370-371]


[Disalin dari buku Jahalatun nas fid du'a, edisi Indonesia Kesalahan Dalam berdoa oleh Ismail bin Marsyud bin Ibrahim Ar-Rumaih, hal 174-180 terbitan Darul Haq, penerjemah Zaenal Abidin Lc]


LAYLA & MAJNUN

(kisah teladan dari negeri sufi)

Oleh: Khoirul Hafidz Fanani)

Seorang kepala suku Bani Umar di Arab telah dianugerahi seorang anak yang sangat dicintai, namanya Qais. Ia anak yang tampan, bermata besar, dan berambut hitam. Ia cerdas dan disukai oleh banyak orang, menjadi pusat perhatian dan kekaguman. Ia juga pintar dalam memainkan musik, menggubah syair dan melukis.

Ketika sudah mencapai umur sekolah, ayahnya membuat sekolah favorit yang di huni oleh murid-murid dari kalangan keluarga terpandang. Pengajarnya pun dari guru yang berkualitas. Di antara mereka, ada murid perempuan yang sangat cantik luar biasa dari keluarga kepala suku tetangga. Rambut dan matanya hitam, sehitam malam. Karena inilah, mereka menyebutnya Layla “malam”. Meski masih berusia dua belas tahun, banyak pria yang menaksir dan mau melamarnya.

Qais dan Layla adalah teman sekelas. Sejak hari pertama masuk sekolah, mereka sudah saling tertarik. Percikan ketertarikan itu akhirnya menjadi api cinta yang membara. Bagi mereka berdua, sekolah bukan tempat belajar lagi, melainkan sebagai ajang bertemu. Ketika guru sedang mengajar, mereka saling berpandangan. Ketika tiba waktunya menulis, mereka justru saling menulis namanya di kertas. Bagi mereka dunia hanya milik berdua, Qais dan Layla saja.

Lama-kelamaan, hubungan cinta mereka mulai diketahui khalayak umum. Bisik-bisik, gunjingan-gunjingan pun mulai terdengar. Ketika ayah Layla juga mendengar berita tersebut, ia melarang Layla untuk tidak sekolah lagi. Karena baginya, tidak pantas anak gadis seusia Layla menjadi pusat sasaran cinta kaum pria. Qais pun akhirnya menjadi gelisah karena sudah tidak melihat Layla lagi di dalam kelas. Ia keluar dari sekolah dengan berjalan menelusuri sungai seraya melantunkan syair-syair yang berisi tentang Layla. Ia tidak mau bicara dengan orang kecuali bicara tentang Layla. Ia tidak mau menjawab pertanyaan orang, kalau tidak bertanya tentang Layla. Orang pun tertawa dan berkata, “Lihatlah ia, ia seorang Majnun, “gila”. Akhirnya ia dikenal dengan nama ini.

Melihat orang-orang melihat dirinya, menggunjing dirinya, Majnun kemudian mencari tempat di sebuah bukit untuk dibuat tempat tinggal. Ia sadar, Layla telah dipingit oleh orang tuanya, dan sulit bertemu dengannya. Ia kemudian mencari tempat yang bersebelahan dengan desa Layla, dan membangun gubuk yang menghadap ke desa kekasihnya itu. Sepanjang hari ia duduk-duduk di depan gubuknya, sambil bernyanyi tentang Layla, daun-daun dan bunga diambil kemudian di letakkan di atas sungai yang mengalir ke arah desa Layla untuk dititipi salam. Burung-burung di sapa dan diminta terbang menuju ke desa kekasihnya untuk menyampaikan salam rindunya. Angin Barat yang datang dari arah desa Layla dihirupnya. Pokoknya semua yang datang dari desa kekasihnya itu dikasihi dan disayangi.

Waktu terus berjalan, bulan demi bulan, Majnun tidak menemukan jejak kekasihnya lagi, sementara kerinduannya semakin menjadi-jadi, sampai akhirnya ia kelihatan menderita, badannya lusuh, tubuhnya kurus, dan pakaiannyapun compang-camping tak terurus. Tapi bagi Majnun, dirinya masih terasa kuat dan sehat, karena setiap hari masih bisa memanggil-manggil nama Layla.

Sahabat-sahabat sekolahnya dulu, telah mengunjunginya, tapi ia tidak mau bicara kecuali tentang Layla saja. Penderitaan Majnun ini, akhirnya menjadi perhatian ayahnya. Ayahnya kemudian memutuskan untuk melamar Layla atas anaknya. Ia menyiapkan kafilah dan hadiah yang penuh dengan barang berharga, kemudian dikirimkan ke desa Layla. Ketika masuk ke desa Layla, sang tamu disambut gembira oleh keluarga Layla. Mereka sama-sama cerita tentang keluarga dan anaknya masing-masing dengan suasana ceria. Ketika ayah Majnun mulai bicara tentang keinginannya melamarkan Layla untuk anaknya, ayah Layla menjawab, “Bukannya akau menolak Qais. Aku percaya kepadamu, sebab engkau pastilah orang yang terpandang dan terhormat. Akan tetapi engkau tidak bisa menyalahkanku, kalau aku berhati-hati terhadap anakmu. Semua orang tahu perilaku abnormalnya. Ia berpakaian seperti pengemis, ia pasti sudah lama tidak mandi. Ia hidup bersama hewan-hewan dan menjahui orang banyak. Tolong katakan kawan, jika engkau punya anak perempuan dan engkau berada dalam posisiku, akankah engkau memberikan anak perempuanmu kepada anakku?”. Ayah Qais tidak bisa berbuat apa-apa, karena menyadari anaknya memang demikian. Padahal dulu anaknya adalah teladan bagi teman sebayanya. Ia terkenal cerdas di kalangan wilayah jazirah Arab.

Ayahnya terus berpikir, bagaimana caranya supaya Majnun sembuh dari penyakit gila-nya. Akhirnya kemudian, ayahnya mengadakan acara pesta besar dengan makanan yang lezat-lezat. Gadis-gadis cantik dari negeri tetangga didatangkan dibuat untuk menghibur anaknya. Saat pesta dimulai, Majnun duduk sendirian sambil termenung, memperhatikan gadis-gadis yang lalu-lalang di depannya. Ia memperhatikan dengan seksama dan mencari barangkali ada yang mirip dengan Layla. Ada yang mirip pakaiannya, ada yang mirip rambutnya saja, dan senyumannya saja. Tetapi semuanya tidak dapat menghiburrnya, malah justru menyiksa batinnya. Hatinya terasa tersayat-tersayat ketika melihat orang-orang yang berada di sekelilingnya. Ia kesal dan marah kepada semuanya, karena ia anggap mereka, termasuk ayahnya, telah mengelabuhinya. Ia kemudian menangis dan menjerit keras sampai akhirnya jatuh pingsan tak sadarkan diri.

Sesudah petaka ini, sang ayah kemudian mengajak Majnun ke Mekkah untuk menunaikan ibadah haji. Dengan harapan Allah telah merahmatinya, dan membebaskan dari penyakit gila-nya kepada Layla. Di sana, Majnun bersimpuh di hadapan Ka’bah lalu berdoa, “Wahai Yang Maha Pengasih, Raja Diraja, Engkau Dzat yang menganugerahkan cinta, maka tinggikanlah cintaku dan kekasihku”. Kemudian ayahnya mendengar, dan akhirnya ia pasrah dan merasa tidak dapat berbuat apa-apa lagi untuk anaknya.

Usai menunaikan haji, Majnun tidak mau lagi bergaul dengan masyarakat. Ia menjauh, mencari tempat yang sepi dari pandangan orang lain. Ia tidak kembali ke gubuk deritanya lagi. Tetapi kemudian, ia menemukan reruntuhan bangunan untuk ditempatinya.

Berita tentang Majnun sudah tidak terdengar lagi oleh masyarakat. Mereka sudah tidak tahu lagi di mana Majnun berada. Sampai akhirnya, orang tuanya mengirim utusan untuk mencari keberadaannya. Utusan tersebut kembali dengan tangan hampa, tidak menemukan jejak Majnun. Mereka mengira, Majnun telah mati dimakan oleh binatang buas gunung sahara.

Suatu hari, seorang musafir melewati reruntuhan bangunan di mana Majnun tinggal. Musafir itu kemudian melihat sosok aneh duduk di sebuah tembok yang hancur. Tubuhnya kurus, rambutnya panjang hingga ke bahu, jenggotnya panjang dan acak-acakan, serta bajunya compang-camping dan kumal. Ketika sang musafir mengucapkan salam, tapi tidak mendapatkan jawaban, ia mendekatinya dan melihat ada seekor srigala yang tidur di kakinya. “Hus”, kata sang musafir. Baru sosok aneh tersebut berbicara, “jangan bangunkan sahabatku”, kemudian ia memandang ke arah kejauhan. Musafir pun duduk di situ dengan tenang. Ia menunggu dan penuh penasaran apa yang akan terjadi. Akhirnya orang aneh itu berbicara, barulah tahu bahwa dia adalah Majnun yang terkenal di seantero jagad Arab.

Nampaknya Majnun memang sudah bersahabat dengan binatang-bintang yang ada di situ. Berbagai macam binatang tidak ada yang mengganggunya, karena Majnun juga tidak pernah menyakitinya, bahkan menyayanginya. Sang musafir kemudian mendengarkan Majnun yang telah melantunkan dan menggubah syair-syair cintanya kepada Layla. Akhirnya sang musafir pergi dan meninggalkan Majnun untuk melanjutkan perjalanannya.

Ketika musafir sampai di desa Majnun, ia menuturkan kisahnya pada orang-orang, yang akhirnya sampai terdengar oleh ayah Majnun. Begitu mendengar, ayah Majnun memanggil musafir untuk diminta keterangan perihal anaknya. Merasa gembira dan bahagia, karena Majnun masih hidup, ayahnya pergi ke gurun sahara untuk menemui dan menjemputnya. Ketika melihat reruntuhan bangunan seperti yang digambarkan musafir itu, ayah Majnun sangat marah, karena merasa anaknya telah terjembab ke dalam jurang kehinaan. “Ya Tuhan, aku mohon agar Engkau menyelamatkan anakku dan mengembalikan kepada keluarga kami”, jerit kepala suku tersebut. Majnun mendengar doa ayahnya, dan segera keluar dari tempat persembunyiannya, lalu bersimpuh di kaki ayahnya. Majnun menangis, sambil berkata, “Wahai ayah, ampunilah aku atas segala kepedihan yang kutimbulkan ke padamu, lupakanlah bahwa engkau telah mempunyai anak, karena ini akan mengurangi beban ayah. Sebab ini adalah sudah nasibku ‘mencinta’, dan hidup untuk mencinta. Ayah dan anakpun kemudian saling berpelukan dan menangis tersedu-sedu. Inilah pertemuan terakhir mereka.

Sisi lain, keluarga Layla telah menyalahkan ayahnya lantaran salah dalam mendidik dan mengatasi problem ini. Dengan dipingitnya Layla dalam kamar, akhirnya Layla pun tidak mau keluar dari kamar, kecuali ke taman saja. Ia berdiam diri terus menerus di dalam kamar sambil merindukan kekasih tercintanya. Beberapa teman telah mengunjunginya, tetapi Layla tetap tidak mau ditemani oleh siapapun. Ia merasa betah di dalam kamar sendirian sambil memelihara api cinta yang membakar dalam kalbunya. Untuk mengungkapkan perasaannya yang mendalam, ia menulis dan menggubah syair kepada kekasihnya lalu ditulis di atas`potongan kertas-kertas kecil. Ketika diperbolehkan menyendiri di taman, ia menerbangkan kertas-kertas kecil ini melalui hembusan angin. Orang-orang yang menemukan kertas-kertas ini, kemudian membawanya kepada Majnun. Dengan demikian dua insan yang dimabuk cinta ini masih bisa menjalin hubungan.

Karena Majnun sangat terkenal di seluruh negeri, banyak orang mengunjunginya. Mereka mendengarkan syair-syair cintanya yang indah dan kidung pujian-pujiannya kepada Layla. Majnun memainkan serulingnya yang sangat memukau. Banyak yang merasa iba kepadanya, tapi sebagian ada yang sekedar ingin tahu tentang kisahnya. Merekapun dapat merasakan kedalaman cinta dan kasih sayangnya kepada semua makhluk. Tapi mereka tidak bisa lama-lama di situ, karena tahu Majnun tidak betah lama-lama dikunjungi orang banyak.

Salah satu dari pengunjung itu, ada seorang kesatria gagah berani bernama Amr. Ia pernah berjumpa Majnun ketika perjalanannya ke Mekkah. Meskipun ia sudah mendengar kisah cinta yang sangat terkenal itu di kotanya sendiri, ia ingin melihat dan mendengar dari mulut Majnun sendiri. Drama kisah tragis itu membuatnya pilu dan sedih, sehingga ia bersumpah dan bertekad untuk melakukan apa saja demi mempersatukan dua kekasih itu, meskipun harus banyak rintangan yang dihadapi.

Kembali ke kota kelahirannya, Amr kemudian menghimpun pasukan untuk menghancurkan suku yang ada di desa Layla. Akhirnya pertempuranpun terjadi. Banyak korban berjatuhan yang meninggal maupun terluka akibat serangan pasukan yang dipimpin Amr. Ketika pasukan Amr hampir memenangkan pertempuran, Ayah Layla mengirim pesan kepada Amr, “Jika engkau atau salah satu dari prajuritmu menginginkan putriku, maka akan aku serahkan, bahkan mau membunuh putriku, aku akan menyerahkannya, Tapi ada satu hal yang tidak akan aku lakukan, yakni menyerahkan putriku kepada orang ‘gila’ itu”.

Di medan pertempuran, Majnun berjalan lalu-lalang dengan bebas di tengah-tengah orang berperang. Ia menghampiri orang-orang terluka dari suku Layla, ia tolong mereka, dan ia rawat dengan penuh perhatian. Amr kemudian bertanya kepada Majnun kenapa sampai melakukan hal itu, ia jawab, “Orang-orang ini berasal dari desa kekasihku, bagaimana mungkin aku membenci dan memusuhinya?”. Amr jadi tidak mengerti dan bingung perihal yang dilakukan Majnun. Apa yang dikatakan ayah Layla tentang orang ‘gila’ ini membuatnya sadar. Akhirnya ia meminta pasukannya untuk mundur dari medan perang dan pergi meninggalkan desa itu tanpa mengucapkan apa-apa.

Sementara Layla tetap merana dalam penjara kamarnya sendiri. Kadang ia berjalan-jalan di taman sambil bernyanyi lagu-lagu cintanya. Suatu hari ada seorang bangsawan kaya raya, Ibnu Salam namanya, melihat sosok Layla yang sangat cantik jelita, ia tertarik dan segera menjumpai ayah Layla untuk melamarnya. Diterimalah lamaran itu oleh ayah Layla. Tentu saja Layla menolak keras, ia mengatakan kepada ayahnya,”Aku lebih senang mati dari pada kawin dengan orang itu”. Ia lari kepada ibunya, tapi sama saja tetap tidak digubris.

Perkawinanpun berlangsung dalam waktu singkat. Orang tua Layla merasa lega karena seluruh cobaan yang menimpa anakknya telah berakhir. Akan tetapi Layla menegaskan kepada suaminya,”Aku tidak pernah menjadi seorang istri, karena itu jangan membuang waktu, segeralah cari istri lain yang dapat membuat kamu bahagia”. Ibn Salam tidak memperdulikan ucapan Layla, ia pikir suatu ketika dia pasti jatuh ke dalam pelukannya.

Majnun mendengar berita perkawinan Layla, ia menangis dan meratap selama beberapa hari. Ia melantunkan lagu-lagu yang demikian menyayat hati dan mengharu-biru kalbu, sehingga semua orang yang mendengarpun ikut menangis. Derita dan kepedihannya begitu berat sampai binatang-binatang yang ada di sekelilingnya ikut bersedih. Tapi tak lama kemudian Majnun sadar bahwa ia harus mengucapkan selamat kepada Layla. Ia kirim surat kepada kekasihnya itu,”Semoga kalian berdua dapat hidup bahagia, hanya satu pesanku, jangan engkau lupakan namaku, meski engkau milik orang lain. Jangan engkau lupakan, bahwa ada orang yang sangat mencintaimu, meski tubuhnya hancur berkeping-keping, hanya akan memanggil-manggil namamu, Layla”.

Sebagai jawabannya, Layla mengirimkan sebuah anting-anting sebagai tanda pengabdiannya. Dalam surat yang disertakannya, ia mengatakan,”Dalam hidupku, aku tidak bisa melupakanmu barang sesaatpun. Kupendam cintaku demikian lama, tanpa mampu menceritakannya kepada siapapun. Engkau memaklumkan cintamu kepada seluruh dunia, sementara aku membakar di dalam, dan engkau membakar cintamu di sekitarmu. Kini aku harus menghabiskan hidupku dengan seseorang, padahal segenap jiwa menjadi milik orang lain. Katakan kepadaku ‘kasih’...mana di antara kita yang dimabuk cinta, engkau ataukah aku”.

Tahun demi tahun terus berlalu, orang tua Majnun meninggal dunia, tapi Majnun tetap tinggal di reruntuhan bangunan itu dan merasa lebih kesepian dibanding sebelumnya. Di siang hari, ia mengarungi gurun sahara bersama sahabat-sahabat binatangnya. Di malam hari, ia memainkan serulingnya dengan melantunkan syair-syair kepada binatang buas, yang kini menjadi satu-satunya pendengar setianya. Ia menulis syair-syair cinta untuk Layla dengan ranting di atas tanah. Selang berapa lama, ia terbiasa dengan kehidupan yang aneh ini, ia menemukan kedamaian dan ketenangan dalam hatinya, sehingga tak ada satupun yang dapat mengganggu dan mengusiknya.

Sementara Layla tetap setia pada cintanya. Ibn Salam, suaminya merasa tidak pernah bisa mendekatinya, kendatipun ia hidup bersamanya. Ia sudah tidak sanggup lagi mengambil kepercayaan hati istrinya. Hidupnya terasa hambar dan sia-sia. Mereka berdua ibarat orang asing yang tidak saling kenal. Tak sepatah katapun yang keluar dari bibir mereka kecuali kalau ditanya. Mereka tidak pernah bicara. Dan akhirnya Ibn Salam jatuh sakit, tidak kuasa bertahan, sebab hidupnya dirasa tidak menjanjikan lagi. Pada musim panas, Ibn Salam meninggal dunia. Kematian suaminya ini, telah mengaduk-aduk perasaan Layla. Orang-orang mengira, ia sedih karena ditinggal suaminya, padahal sesungguhnya ia telah menangisi kekasihnya yang hilang, yang telah lama dirindukannya. Ia menangis keras dan lama sekali.

Setelah itu, Layla kembali ke rumah orang tuanya. Meski usianya masih muda, Layla tampak tua, dan kusut. Tapi ia kelihatan dewasa dibanding wanita seusianya.. Tak lama kemudian, kesehatannya telah digerogoti oleh perasaan api cintanya yang mendalam. Ia jatuh sakit, tidak mau makan dan tidur dengan baik selama beberapa malam. Ia tidak pernah memikirkan kesehatannya lagi. Bagaimana tidak, kalau yang dipikirkannya hanyalah Majnun semata. Sakitnya bertambah parah, dan ketika nyawa mau merenggutnya, ia masih memikirkan Majnun, ia hanya membuka matanya untuk memandang pintu kalau-kalau kekasihnya datang. Namun ia sadar, waktunya sudah habis, dan ia akan pergi tanpa mengucapkan salam perpisahan kepada kekasih tercintanya. Pada suatu malam musim dingin, Layla menghembuskan nafasnya yang terakhir, matanya menatap pintu, ia meninggal dunia sambil bergumam, “Majnun”.

Kabar kematian Layla menyebar ke seluruh penjuru negeri. Tak terkecuali, Majnun, juga mendengar berita itu. Ia jatuh pingsan di tengah gurun sahara selama beberapa hari. Ketika sudah siuman, ia pergi menuju desa Lyala dengan kondisi tidak bisa berjalan lagi. Ia menyeret tubuhnya di atas tanah hingga sampai di desa Layla. Ia bergerak terus tanpa henti sampai akhirnya ia menemukan kuburan Layla. Ia berkabung di kuburan kekasihnya sampai beberapa hari. Ia letakkan kepalanya di atas kuburan Layla dengan diiringi kepedihan hati yang sangat mendalam. Akhirnya..., Majnun kekasih setia Layla itu meninggal dunia dengan posisi memeluk kuburan Layla. Ia meninggal dunia untuk selamanya.

Jasad Majnun tetap berada di atas kuburan Layla selama hampir satu tahun. Ketika peringatan satu tahun kematian Layla, kuburannya diziarahi oleh beberapa orang, termasuk teman sekolahnya dulu. Mereka menemukan sosok terbujur kaku di atas kuburan Layla. Sebagian dari mereka mengenalinya, bahwa itu adalah jasadnya Majnun. Akhirnya ia pun di kubur di sebelah kuburan Layla. Tubuh dua kekasih itu, kini telah kembali bertemu, dan bersatu dalam keabadian.

Konon, tak lama sesudah itu, ada seorang ahli ibadah (sufi) bermimpi melihat Majnun hadir di hadapan Tuhan. Tuhan membelai Majnun dengan penuh kasih sayang dan mendudukkannya di sisi-Nya. Lalu Tuhan berkata kepada Majnun, “Tidakkah engkau malu memangil-manggil-Ku dengan nama Layla, setelah engkau meminum anggur Cinta-Ku?”. Sang sufi pun bangun dalam keadaan gelisah. Jika Majnun diperlakukan sangat baik penuh kasih sayang oleh Tuhan, lalu bagaimana dengan Layla yang malang itu?. Begitu pikiran itu terlintas dalam benaknya, Tuhan mengirimkan ilham jawaban kepadanya, “Kedudukan Layla lebih tinggi, sebab ia menyembunyikan dan merahasiakan Cinta dalam dirinya”.[hafana]

 
Design by Wordpress Theme | Bloggerized by Free Blogger Templates | free samples without surveys